Page 44 - Mia Bungsu dan Nek Imok
P. 44

Ibunya  berniat  menetap  di gubuk yang  ada  di
            ladang. Ia untuk sementara ingin tinggal sendiri sambil

            menanam padi dan sayur-sayuran. Ia berharap anak-

            anaknya belajar dari kesalahan.
                 Keesokan  harinya  si  ibu  meninggalkan  anak-

            anaknya.  Ia  pun  berjalan  dengan  rasa  kesal  di  hati.

            Ia  masih  marah  karena  anak-anaknya  tidak  menaati

            pesannya.  Ia  juga  marah  karena  keinginannya  untuk

            makan burung panggang tidak kesampaian. Padahal, ia
            sangat ingin makan burung itu. Kalau tidak pun sekadar

            mencolek dan menyentuh tulangnya saja sudah cukup.

            Namun, sisa tulangnya pun sudah tidak ada.
                 “Aku ini kempunan burung panggang,” kata ibunya

            berbicara sendiri.

                 “Mudah-mudahan  tidak  terjadi  yang  tidak-tidak

            dengan  diriku,”  lanjut  ibunya  berbicara  kepada  diri

            sendiri.
                 Akhirnya, si ibu pun berjalan meninggalkan rumah

            dan  anak-anaknya.  Melihat  ibunya  pergi, Koling  dan

            Mia Bungsu pun menyusul. Mereka mengikuti langkah
            kaki ibunya. Mereka berteriak.




                                          30
   39   40   41   42   43   44   45   46   47   48   49