Page 43 - Cerita Darman dan Darmin
P. 43

“Astagfirullah!  Ini  Babe,  Darman!”  bentak

            Pak Salim  menahan  marah.  “Teganya  kamu  tidak

            mengakui ayahmu!” teriaknya lagi.

                 Pak Salim  tidak  mau berlama-lama  di  rumah

            Darman. Dia meninggalkan rumah anaknya dengan

            perasaan kecewa yang luar biasa. Dia tidak habis

            pikir anaknya berani menyakiti hati orang tuanya.

            Meskipun  anaknya  sudah  menyakiti  hatinya,  Pak

            Salim tetap mendoakan yang terbaik untuk anaknya.

            Dia berharap suatu saat anaknya akan sadar.

                 Sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya, Pak

            Salim banyak merenung. Dia teringat dua anaknya

            yang  pernah diusir  dari  rumah.  Dia  sangat  ingin

            bertemu  dengan  kedua  anaknya  itu.  Akan  tetapi,

            dia tidak tahu di mana mereka berada.

                  Beberapa bulan kemudian, terjadi perubahan

            pada  diri  Darman.  Dia  lebih  banyak  termenung,

            kadang bicara sendiri, kadang menangis.  Dia juga

            sering marah tanpa sebab. Semakin lama kelakuan




                                          36
   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47   48