Page 44 - Sulbar-Vova Sanggayu
P. 44

sudut matanya. Lalu, mata itu perlahan terpejam... dan
            terpejam untuk selamanya.

                “Ayahhh...  jangan tinggalkan  aku,  Ayaaahhh!”

            pekik Cicci Hadra.

                “Puaq... Puaq... Puaq....” Ambo berusaha me-
            manggil-manggil,  lalu  mengguncang-guncang  tubuh

            Puaq. Namun, semua sudah terlambat.

                Sambil memegang parang di tangannya kanannya,

            Amboq berdiri, lalu berlari masuk kampung memanggil
            Ijo  dan  anaknya,  Becce  Segang.  Ijo  yang  sedang

            membersihkan         pekarangan       belakang       terkejut

            mendengar suara Amboq memanggil-manggil namanya.

            Dilepasnya sapu lidi yang dipegangnya, diikuti langkah
            Amboq.  Namun,  naas  bagi  Amboq,  saat  lelaki  itu

            berada  pada  anak  tangga  rumahnya  untuk  memberi

            tahu  istri, ia  tersandung. Parang yang dipegangnya

            terlepas melukai betis kirinya. Becce Segang, anaknya
            Amboq,  melihat  sendiri  kejadian  yang  menimpa

            ayahnya. Ia menjerit memanggil ibunya. Ibu dan adik

            perempuannya datang dari dapur. Dilihat, kaki Amboq







                                                                      35
   39   40   41   42   43   44   45   46   47   48   49