Page 39 - Sulbar-Vova Sanggayu
P. 39

“Anakku Cicci Hadra, ini bukan sakit biasa rasanya,
            Nak.”

                “Maksud,  Ayah?”  Cicci  Hadra  tidak  mengerti

            maksud kalimat ayahnya.

                 “Ya, ini bukan sakit biasa, Nak. Tidak hanya panas
            yang ayah rasakan, tetapi juga sakit di dada ini. Ayah

            sudah tak kuat, Nak.” Puaq meraba dadanya dengan

            kedua tangannya.

                “Sakitnya  bagaimana,  Ayah?  Apa  yang  harus
            saya perbuat?” Cicci  Hadra mulai cemas mendengar

            perkataan ayahnya.

                “Mungkin  benar  apa  yang  dikatakan  Nenek  Tupu,

            Nak. Menebang pohon bakau itu akan mengakibatkan
            celaka bagi orang yang melakukannya.”

                “Tapi kenapa Ayah lakukan juga, Yah? Nenek Tupu

            itu orang tua yang disegani di kampung ini. Perkataan

            beliau didengar orang-orang, Yah.” Cicci terlihat
            menyesalkan perlakuan ayahnya yang semena-mena

            itu.

                Puaq  tidak  lagi  mengomentari  perkataan  terakhir

            Cicci Hadra. Lelaki itu membalikkan badannya,




            30
   34   35   36   37   38   39   40   41   42   43   44