Page 43 - Sulbar-Vova Sanggayu
P. 43

“Kenapa  Ayah  berkata  begitu?  Aku  ini  ‘kan  anak
            Ayah!” tukas Cicci Hadra.

                “Sudahlah! Tak usah kau pikirkan! Aku ingin bertemu

            si Amboq, di mana dia!” kilah Puaq sambil memainkan

            bola matanya ke tempat Amboq mematok-matok tanah.
                “Itu  dia,  Ayah.  Tapi  Ayah  yang  sabar  ya.”  Cicci

            Hadra menenangkan hati ayahnya.

                Sesampai di tempat Amboq mematok-matok tanah,

            adu  mulut  antara  Puaq  dan  Amboq  pun  terjadi.  Satu
            sama lain sudah seperti orang kerasukan. Cicci Hadra

            berusaha sekuat tenaga menahan gerak ayahnya,

            namun sia-sia. Puaq yang sedang sakit tidak sedikit

            pun terlihat seperti orang sakit. Namun, tidak ada yang
            tahu kalau lelaki itu sudah tidak berdaya. Saat hendak

            maju melawan  Amboq yang segar bugar,  tiba-tiba

            Puaq  lemas  tak  berdaya.  Tinjunya  yang  tadinya  kuat

            mengepal,  perlahan  turun.  Ia  jatuh  terkulai  di  pasir
            bercampur butir-butir karang. Cicci Hadra memeluk

            erat tubuh ayahnya. Wajah Puaq pucat pasi, tak ada

            lagi kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ditatapnya

            anak  gadisnya  itu.  Air  matanya  tergenang  di  kedua




            34
   38   39   40   41   42   43   44   45   46   47   48