Page 38 - Sulbar-Vova Sanggayu
P. 38
Tidak berapa lama berdatanganlah orang-orang ke
kediaman Ijo, dan menyampaikan turut berdukacita.
Saat pemakaman neneknya, Ijo tak dapat meredam air
mata yang jatuh di pipinya. Kini, anak muda itu sudah
tidak punya siapa-siapa lagi. Sekarang ia benar-benar
tinggal sebatang kara.
***
Sementara itu, ada sesuatu yang terjadi pada Puaq.
Setelah menebang pohon bakau di pantai beberapa
hari yang lalu itu, ia pun jatuh sakit. Berbagai macam
obat telah diminumnya, tetapi penyakitnya tak kunjung
sembuh. Badannya yang dulu kekar, kini terlihat kurus.
Hari ke hari berbaring lemas di atas dipan kayunya. Tak
satu pun makanan yang bisa ditelannya. Untunglah
ada anak perempuannya, Cicci Hadra, yang merawat.
Istrinya telah berpulang lebih dahulu saat melahirkan
adik Cicci Hadra.
Siang itu, setelah anak perempuannya itu
menyendokkan teh ke mulutnya, Puaq mengatakan
sesuatu.
29

