Page 37 - Sulbar-Vova Sanggayu
P. 37

“Bagaimana  Nenek  tidak  memikirkannya,  Jo.”
            Nenek Tupu terlihat sedikit tegang.

                “Nek, Nenek ‘kan...”

                “Karena Nenek lagi sakit? Begitu maksudmu? Siapa

            lagi Jo...siapa lagi yang mau menanami pantai itu kalau
            bukan kita, Jo? Makanya, Nenek pesankan kepada kamu

            untuk mencari bibit bakau itu. Jika sudah tumbuh nanti,

            kamu harus menjaganya dengan baik dan sepenuh hati.

            Namailah bakau-bakau itu itu dengan  Vova Sanggayu.”
                “Vova  Sanggayu?”  tanya  Ijo  dalam  hati.  Ijo

            menanyakan  mengapa  harus  menamai  bakau-bakau

            itu  dengan  Vova  Sanggayu  kepada  neneknya. Nenek

            Tupu menjelaskan dengan suara pelan dan terbata-
            bata.  Namun  setelah  mendengarkan  kalimat  terakhir

            neneknya itu, Ijo merasakan sesuatu yang aneh dari

            pandangan  nenek  yang  sangat  disayanginya  itu.  Ya,

            Nenek Tupu memperlihatkan tatapan yang sayu kepada
            cucunya. Tatapan mendalam yang memberi seribu

            makna. Itulah tatapan terakhir Nenek Tupu. Beberapa

            detik kemudian Nenek Tupu pun menghembuskan napas

            terakhirnya. Ijo memeluk kuat jasad neneknya.




            28
   32   33   34   35   36   37   38   39   40   41   42