Page 23 - Cerita Darman dan Darmin
P. 23

Beberapa bulan setelah pertemuan itu, Darman

            diam-diam menemui ayahnya.

                 “Tumben  datang  kemari,  Bang?”  sapa  Emed

            keheranan.

                   “Memangnya  salah  kalau  aku  mau  menemui

            orang  tua?”  sahut  Darman  berkata  dengan  nada

            tinggi.

                 “Darman! Kamu ini pemarah sekali! Bicara yang

            sopan kepada siapa saja, termasuk kepada seorang

            pesuruh!” bentak Pak Salim.

                 Darman  diam  tidak  menyahut,  tetapi  hatinya

            masih kesal dengan sikap Emed.

                   “Ada  apa  kamu  tiba-tiba  menemui  Babe?”

            tanya Pak Salim keheranan.

                 “Kangen saja, Be,” ujar Darman.

                 “Biasanya kamu tidak pernah menjenguk Babe,

            padahal Babe sakit-sakitan,” kata Pak Salim.

                 “Sebenarnya  Darman  mau  laporan,  Be.

            Pekerjaan yang Babe percayakan ke Darman sudah




                                          16
   18   19   20   21   22   23   24   25   26   27   28