Page 27 - Cerita Darman dan Darmin
P. 27

Darmin dan Amini tidak dapat berbuat apa-apa

            selain harus pergi dari rumah orang tuanya.

                 “Bang, Amini lapar!” kata Amini di perjalanan

            sambil      memegangi         perutnya       yang      mulai

            keroncongan. Perut mereka belum terisi makanan

            sama sekali.

                 “Sabar, Dik!”

                 “Amini  lapar  sekali,  Bang!”  rengek  Amini.

            Matanya mulai berkaca-kaca.

                  “Sabar, Dik!”

                 “Abang selalu bilang sabar, Amini sudah benar-

            benar lapar!” tangis Amini mulai meledak.

                 “Sudah!  Jangan  menangis.  Kita  cari  makan,”

            bujuk  Darmin  sambil  menggamit  tangan  adiknya.

            Mereka berjalan dari satu kampung ke kampung lain.

            Akhirnya  kedua  kakak  beradik  tersebut  berhenti

            di  pinggir  sawah  yang padinya  mulai  menguning.

            Mereka beristirahat sejenak di sebuah gubuk yang

            didirikan  petani.  Suara  gemericik  air  dari  aliran




                                          20
   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31   32