Page 55 - Sulbar-Vova Sanggayu
P. 55

dilepaskannya pandangannya pada pohon bakau yang
            berdiri di depannya. Tak terasa air matanya menetes.

            Amboq tertegak menahan isak.

                Lalu Ijo, ia maju tiga langkah dari tempat ia berdiri.

            Sebelum mengawali pembicaraannya, pemuda tampan
            itu memberikan seulas senyum menawan pada semua

            orang-orang yang hadir sebagai sapanya.

                “Bapak,  Ibu,  Saudara-saudara,  dan  Adik-adikku

            sekalian, hari ini adalah hari yang paling bahagia bagi
            saya dan bagi kita semua. Dengan kerelaan Bapak Ibu,

            Saudara,  dan  Adik-adik  semua  untuk  melangkahkan

            kaki  dan  melenggangkan  tangan  datang  ke  pantai

            indah ciptaan Tuhan ini, tak ada kata yang dapat  saya
            katakan, selain kata terima kasih. Tak ada rasa, selain

            rasa bangga. Ya, bangga tak bertara.”

                Semua  yang  hadir  bertepuk  tangan  dan  saling

            berpandangan. Mereka mengagumi sosok yang sedang
            berbicara, sosok Ijo yang ramah, berani, dan jujur.

                “Tentang Tanjung Babia  ini, sebuah daratan di

            tanah Mandar Pattae yang menjorok ke laut, adalah

            sebuah  kampung  tempat  kita  bermukim.  Kampung




            46
   50   51   52   53   54   55   56   57   58   59   60