Page 54 - Mia Bungsu dan Nek Imok
P. 54

“Ambil  saja  pucuk ketela  dan  pucuk pakis, lalu
            kamu tumbuk sampai halus. Bungkus hasil tumbukan itu

            dengan kain, lalu jadikan bahan itu sebagai pengompres

            matamu,” kata Nek Imok.
                 “Berjanjilah kamu tidak melanggar pantangan tadi

            dan  menjadikan  semua  ini  sebagai  pelajaran  hidup,”

            nasihat Nek Imok.

                 “Terima kasih, Nek. Aku berjanji,” kata Mia Bungsu.

                 Sejak  Mia  Bungsu  belajar  berladang  dengan  Nek
            Imok, kebutuhan  makan  ia  dan  abangnya  terpenuhi.

            Abangnya  pun  dapat  menikmati  hasil  kerja  keras  Mia

            Bungsu dalam berladang.
                 Abangnya  itu  tidak  pernah  bekerja.  Ia  hanya

            mengharapkan  Mia  Bungsu  yang  bekerja  keras  untuk

            dirinya. Koling hanya enak-enakan di rumah. Jika tidak

            ada  makanan,  ia  akan  marah-marah.  Begitulah  hari-

            hari kehidupan Koling.
                 Mia  Bungsu  hanya  bisa  bersabar  menghadapi

            abangnya.  Ia  masih  berharap  perilaku  Koling  bisa

            berubah  menjadi  lebih  baik.  Mia Bungsu  berpikir
            tidak apa-apa ia yang bekerja keras di ladang asalkan




                                          40
   49   50   51   52   53   54   55   56   57   58   59