Page 20 - Berbendibendi di Bukittinggi
P. 20

berwarna  kehijauan  karena  penggunaan  cabe  hijau

            tadi.  Apalagi  jika  makannya  ditambah  dengan  rebus

            daun pucuk ubi.
                 Saking bersemangatnya, Pak Sutan dan Bu Sutan

            makan  dengan  berkeringat.  “Sudah  lama  Ayah  tidak

            merasakan masakan seenak ini,” kata Pak Sutan.
                 “Iya,  enak  sekali,  Nenek  pintar  sekali  memasak,”

            kata  Bu  Sutan  pula.  Dimakan  dengan  nasi  putih  yang
            mengepul, gulai itik cabai hijau itu memang akan terasa

            sangat nikmat.

                 Sementara  Ara  dan  Hosen  mencoba  masakan  itu
            sedikit saja. Belum lagi sampai di mulut Hosen sudah

            berteriak-teriak
                 “Pedas, pedas, pedas!” sembari  cepat-cepat

            mengambil  minuman.  Ara  juga  begitu,  “Enak, tetapi

            pedas sekali ya Nek,” kata Ara kepada neneknya.
                 “Iya,  orang  Minang  memang  suka  sekali  pedas,”

            kata nenek lembut. “Justru pedas akan membuat kita

            bersemangat dan kuat!” kata nenek lagi, kali ini dengan
            tersenyum.

                 Ara  dan  Hosen  memang belum  terbiasa  dengan

            masakan pedas. Jadi, Ara dan Hosen kemudian dibuatkan
            telur  dadar  saja  oleh  nenek.  Mereka  pun  senang  dan

            makan dengan lahap.
            10
   15   16   17   18   19   20   21   22   23   24   25