Page 24 - Berbendibendi di Bukittinggi
P. 24

Tidak berselang lama, kebetulan lewat kereta kuda
            di jalan itu.

                 Tak ... tik ... tak ... tik ... tuk.

                 Tak ... tik ... tak ... tik ... tuk.
                 Dari jauh sudah terdengar suara sepatu kuda.

                 “Nah, itu dia. Kita naik itu saja!” kata Pak Sutan

            kepada kedua anaknya.
                 “Mana-mana?” kata Ara dan Hosen serempak ingin

            tahu. Begitu menyaksikan kereta kuda lewat di hadapan

            mereka, Ara dan Hosen amat bergirang hati. Di Belanda
            mereka tidak pernah naik kereta kuda sekalipun. Hanya

            pernah melihat saja. Suatu kali, ketika mereka berlibur
            ke London, Ibu kota Inggris.

                 Di  London, mereka  pernah  melihat  kereta  kuda.

            Kereta  kuda  besar  dan  indah.  Keretanya  yang dihias
            batu-batu permata. Kudanya juga dipakaikan pakaian

            yang menarik hati. Kereta kuda yang dikendarai ibu ratu
            dan sang raja. Itu terjadi ketika ada perayaan kerajaan.

                 Pak Sutan  menyetop  kereta  kuda  itu  dengan

            melambaikan tangan kanannya.
                 “Bendi, bendi!” kata Pak Sutan memanggil.

                 Kling klong kling klong, bunyi klakson bendi.

                 Kereta kuda itu pun menepi. Kling klong kling klong,
            bunyi klakson bendi itu sekali lagi.

            14
   19   20   21   22   23   24   25   26   27   28   29