Page 25 - Berbendibendi di Bukittinggi
P. 25

Ara dan Husen merasa semakin heran, tetapi juga
            penasaran dengan yang disebut ayahnya dengan ‘bendi’

            itu. Suara klaksonnya juga aneh.

                 Di kota mereka ternyata banyak juga kereta kuda
            berseliweran. Baru saja mereka akan naik, telah lewat

            lagi satu kereta kuda yang lain.

                 Kling klong kling klong, bunyi klakson kereta kuda
            lain itu.Kling klong kling klong, dibalas pula oleh kereta

            kuda yang mereka tumpangi.

                 Pak Sutan dan Bu Sutan duduk di bangku belakang.
            Bangku belakang saling berhadapan. Sementara Ara dan

            Hosen duduk di samping Pak Kusir. Mereka menghadap
            ke depan.  Melihat  yang berlari  kencang,  membawa

            kereta itu melaju, begitu kuat.

                 Ekor-ekor  kuda  yang  panjang  mengenai  kaki  Ara
            dan Hosen. Mereka tertawa-tawa geli, kadang sedikit

            meringis jika lecutannya bertambah keras ketika kuda
            berlari semakin cepat. Ara kadang membunyikan belnya

            jika lewat di jalanan yang ramai.  Bel yang tadi mereka

            kira sebagai klakson.
                 Kling  klong  kliong  klong,  begitu  bunyi  bel  kereta

            kuda itu, cukup enak didengar, bukan?

                 Jika lari kuda mulai pelan, Pak Kusir melecuti kuda

            dengan cemetinya.
                                                                       15
   20   21   22   23   24   25   26   27   28   29   30