Page 46 - Cerita Dalem Boncel
P. 46

“Begini.  Pedagang  itu  berasal  dari  Kadipaten
            Caringin.  Kadipaten  itu  adanya  di  Banten.  Katanya,

            Kadipaten Caringin diperintah oleh seorang menak yang

            bernama Dalem Boncel.”

                “Hah,  Dalem  Boncel?  Aduh,  anak  kita  mah  bukan
            seorang dalem, Pak. Itu pasti bukan anak kita.”

                “Tadinya  bapak juga  berpikiran  seperti  itu, mana

            bisa si Boncel jadi dalem. Akan tetapi, terus Bapak tanya

            sama pedagang itu bagaimana rupa Dalem Boncel.”
                “Iya Pak, terus seperti apa katanya?”

                “Ciri-cirinya persis seperti anak kita, bahkan sama

            ada tompelnya di pipi sebelah kanan katanya.”

                “Betul, Pak, itu cerita betul? Anak kita sudah jadi
            dalem  sekarang?”  Ibu  Boncel  terisak  menahan  rindu.

            “Ya Allah, Bapak. Jadi, si Boncel anak kita masih hidup.”

                “Iya, Bu, untuk lebih jelas lagi kita ke sana saja.”

                “Bagaimana kalau besok subuh kita pergi?”
                “Sebentar, Pak. Banten itu di mana? Jauh tidak?”

                “Kata pedagang itu kalau kita pergi dengan berjalan

            kaki bisa menghabiskan waktu satu bulan.”









                                                                       37
   41   42   43   44   45   46   47   48   49   50   51