Page 33 - Berbendibendi di Bukittinggi
P. 33

“Pada  masa  itu,”  kata  Pak  Kusir  menyambung
            cerita, “memelihara ternak, terutama kuda, diajarkan

            dengan saksama, begitu pula cara mengendarainya.”
                 “Kondisi  ini  terus  berlanjut  hingga  alat  angkutan

            semakin  baik, yaitu  dengan  dibangunnya  jalan  raya
            yang lebih bagus.”

                 “Oh, begitu,” kata Ara dan Hosen serempak.


            Dari mana Kuda-kuda Itu Berasal?
                 “Dari  mana  ya  kuda-kuda  itu  berasal?”  kata  Ara

            penasaran.
                 Pak Kusir dengan sabar mulai menjelaskan.

                 “Di Minangkabau, kuda dikembangkan di peternakan
            kuda di beberapa daerah, seperti di Airtabit, Limbukan,

            Mungo dan Andalas, dan Sungai Naning.”
                 “Di mana itu, Pak?” kata Ara.

                 “Nanti  Bapak  bawa  Ara  ke  sana,”  kata  Pak  Kusir
            menjanjikan, “tidak jauh kok!”.

                 Pak Kusir lalu melanjutkan:
                 “Di antara daerah-daerah pusat kuda itu, Tanjung

            Aro adalah di antara daerah yang menghasilkan kuda
            yang paling terkenal. Kuda dari Tanjung Aro dianggap

            sama terkenalnya dengan kuda dari Sikabu-kabu.”
                 “Itu  kuda  yang  bagus  ya  Pak?”  kata  Pak  Sutan

            menimpali cerita Pak Kusir.

                                                                       23
   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37   38