Page 32 - Mia Bungsu dan Nek Imok
P. 32

“Oh, pantasan berdarah. Abang menggigit alas nasi
            dari bambu itu. Bibir Abang terkena bagian bambu yang

            tajam,” kata Mia Bungsu.
                 “Ya,” kata Koling sambil terisak-isak menangis.

                 “Makan  harus  pelan-pelan.  Jangan  rakus,”  kata

            Mia Bungsu menasihati Koling.
                 “Bukannya ditolong, malah Abang dibilang rakus,”

            jawab Koling kesal.
                 “Ya, ya, Mia tolong obati,” jawab Mia Bungsu.

                 Mia Bungsu lalu berlari ke luar rumah. Ia pergi ke

            halaman belakang rumah yang banyak ditanami pohon
            pisang.  Mia  pun  dengan  tangkas  membelah  pohon

            pisang  dan  mengambil  getahnya.  Setelah  itu,  ia  pun

            berlari cepat masuk ke dalam rumah untuk mengobati
            luka abangnya.

                 “Sini aku kasih obat,” kata Mia Bungsu.

                 “Ih, mengapa  obatnya  berlendir.  Apa itu?”  tanya
            Koling.

                 “Ini getah pohon pisang,” jawab Mia Bungsu.
                 “Untuk apa?”

                 “Untuk  obat  luka  di mulut  Abanglah,”  jelas Mia

            Bungsu.



                                          18
   27   28   29   30   31   32   33   34   35   36   37