Page 60 - Berbendibendi di Bukittinggi
P. 60

Setelah  itu,  kendaraan  umum  semakin  banyak

            bermunculan.  Ada  bus,  ada  oplet,  ada  angkot,  ada
            minibus,  ada  bemo,  dan  ada  pula  becak-motor,  serta

            banyak lagi yang lain.

                 “Juga  ada  pesawat  terbang!”  kata  Hosen

            mengepak-ngepakkan  tangan.  Semua  orang  tertawa
            senang  melihat  tingkahnya.  Akhirnya,  perlahan-lahan

            bendi jadi tersisih. Huh, jadi sedih!

                 Dengan  hadirnya  alat-alat  angkutan  baru  itu,

            bendi terus-menerus berkurang. Zaman menjadi tidak
            berpihak lagi kepadanya.

                 Bendi  tidak  jarang  juga  dianggap  mengganggu

            keindahan kota karena kotorannya. Jalur untuk bendi

            semakin sempit, terjepit oleh lalu-lalang kendaraan lain
            yang memang lebih kencang.

                 Untuk  dapat  terus  mempertahankan  bendi,

            pemerintah  memanfaatkan  bendi  untuk  pariwisata.

            Bendi  Pariwisata  namanya,  seperti  yang  sedang  kita
            tumpangi ini.

                 Bendi  menarik  minat  pelancong  karena  dia  unik

            dan kuno. Para turis senang sekali jika naik bendi. “Jika

            berjalan-jalan ke Bukittinggi, jangan lupa naik bendi!”
            kata Pak Kusir menutup penjelasannya.

            50
   55   56   57   58   59   60   61   62   63   64   65